#

Author Topic: Tentang Elvira Devinamira  (Read 2395 times)

sunshine3185

Global Moderator

Hero Member

Tentang Elvira Devinamira
| February 04, 2014, 09:11:59 AM
Elvira Devinamira dari Jawa Timur dinobatkan menjadi Puteri Indonesia 2014 di malam final di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Rabu malam. Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman menyematkan mahkota yang sudah diembannya selama setahun belakangan pada sang penerus.

Sementara itu, Runner Up II diraih oleh finalis asal Daerah Istimewa Yogyakarta Estelita Liana dan Runner Up I jatuh pada kontestan asal Sumatera Selatan Elfin Pertiwi. Elvira berhasil mengalahkan 37 finalis Puteri Indonesia lain yang mewakili tiap provinsi di Indonesia.

Sebelumnya, Elvira adalah Puteri Indonesia Jawa Timur 2013. Pada ajang pemilihan Puteri Indonesia Jawa Timur 2013 Elvira tidak hanya berhasil menyabet juara sebagai pemenang, tetapi juga meraih gelar sebagai Puteri favorit hasil polling SMS. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini memang banyak dijagokan sebagai salah satu dari kontestan PPI 2014 yang mempunyai kans yang bagus untuk menjadi penerus Whulandary.

Bahkan Elvira menjadi Favorit seorang Ines Ligron (pemerhati Pageant expert luar negri) dan menjagokan Elvira untuk mewakili Indonesia diajang kecantikan Miss Universe 2014 nanti. Karena itu  dia bersedia datang langsung  ke Bali, Indonesia untuk melatih dan mementor Elvira secara langsung.  Ines Ligron berhasil mencetuskan wanita-wanita cantik diajang Miss Universe, seperti Kurara Chibana (Miss Universe Jepang). Whulandary juga pernah mendapat mentor darinya.

Juri kontes, aktris Raline Shah sejak awal memang menjagokan Elvira Devinamira yang dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2014 semalam. Raline menilai kandidat asal Jawa Timur itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi namun tetap rendah hati, salah satu kualitas yang membuatnya percaya Elvira siap menjalankan tugas sebagai Puteri Indonesia. “I have faith in her,” kata Raline usai malam penobatan di Plenary Hall Jakarta Convention Center semalam.

Perempuan yang juga finalis Puteri Indonesia 2008 itu baru pertama kali menjadi juri dari kontes kecantikan yang sudah melahirkan berbagai publik figur seperti Artika Sari Devi dan Alya Rohali. “Aneh rasanya karena dulu aku ikut dan tidak menang tapi sekarang aku menentukan pemenang,” ujar gadis yang berperan dalam film “5 CM” dan “99 Cahaya di Langit Eropa” tersebut. “Kekalahan itu tidak selalu kalah, tapi merupakan kemenangan yang tertunda,” lanjutnya.

Sebagai juri, Raline menilai cara peserta menjawab pertanyaan pada malam final. Menurut dia, ada kriteria lain selain pintar (brain), cantik (beauty) dan berkepribadian baik (behaviour).”Saya menilai mana yang tulus dan membuat orang merasa nyaman saat berdekatan dengan dia, perfect (sempurna) itu bukan yang cantik,” imbuh Raline.

Elvira sendiri merasa termotivasi oleh prestasi yang ditorehkan oleh seniornya Whulandary Herman di ajang internasional. Whulandary, Puteri Indonesia 2013, menembus babak 16 besar di Miss Universe 2013 serta menjadi runner-up ke-3 Best National Costume.

Elvira yang mewakili daerah Jawa Timur mengatakan pencapaian Indonesia di Miss Universe tahun lalu tidak membuat dia terbebani untuk mewujudkan prestasi yang lebih baik lagi. “Bukan beban, tapi jadi motivasi untuk mencapai hal yang lebih baik,” ujar Elvira usai dinobatkan menjadi Puteri Indonesia di malam final yang berlangsung di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat malam.

Dia belum bisa menjelaskan secara rinci persiapan menuju Miss Universe 2014. “Rencananya akan mentoring dengan orang-orang profesional untuk Miss Universe,” kata Elvira.

Dari 38 finalis, mereka disaring lagi menjadi sepuluh besar yang meliputi perwakilan dari Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta 2, Jawa Timur, Jambi, Papua, DKI Jakarta 5, Gorontalo dan Sumatera Barat.

Sepuluh finalis yang masuk di sepuluh besar calon Puteri Indonesia 2014 adalah perwakilan dari Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta 2, Jawa Timur, Jambi, Papua, DKI Jakarta 5, Gorontalo dan Sumatera Barat.

Kesepuluh finalis pun dikerucutkan menjadi lima orang, yaitu Rakhmi Wijiharti dari Jawa Tengah, Noorzabilla Bambang S dari DKI Jakarta 2, Estelita Liana dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Elvira Devinamira Wirayanti dari Jawa Timur dan Elfin Pertiwi dari Sumatera Selatan.

Dari lima besar, terpilihlah perwakilan dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Sumatera Selatan yang memperebutkan gelar Puteri Indonesia 2014 dan mengikuti Miss Universe 2014, Puteri Indonesia Lingkungan dan mewakili ajang Miss International 2014 untuk Runner Up I dan Puteri Indonesia Pariwisata dan mewakili ajang Miss Supranational untuk Runner Up II.

Biodata/Profil Elvira

Nama Lengkap : Elvira Devinamira

Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 28 Juni 1993

Umur : 21 Tahun

Tinggi Badan : 175 cm

Agama : ISLAM

Warna Favorit : Ungu

Study: Lulusan Jurusan Hukum, Universitas Airlangga

Pekerjaan : Harvard Model United Nation

sunshine3185

Global Moderator

Hero Member

Re: Tentang Elvira Devinamira
Reply #1 | February 04, 2014, 09:12:21 AM
Ecole Fashion Shoot by Elvira on Vimeo

sunshine3185

Global Moderator

Hero Member

Re: Tentang Elvira Devinamira
Reply #2 | September 23, 2014, 08:39:58 AM
Menyandang gelar Puteri Indonesia 2014 di usia 21 tahun tidak pernah terbayang di benak Elvira Devinamira Wirayanti kecil. Vira, begitu ia biasa disapa, mengaku tumbuh sebagai gadis cilik yang tomboy, berkulit gelap, memiliki pipi tembam, jauh dari kesan cantik dan feminin.

Begitu tumbuh menjadi remaja, Vira bertransformasi menjadi seorang gadis yang mulai mengenal kecantikan. Mengenal rias, mengikuti kegiatan model. Suka menonton 'America's Next Top Model' membuat Vira merasa perlu merawat diri sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa. Lalu, sang Ibu, Henida Prabawati, mendorongnya untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

Gadis kelahiran Surabaya, 28 Juni 1993 ini akhirnya mengikuti saran ibunya. Vira mengikuti pemilihan Cak & Ning Surabaya 2012 sebagai ajang kompetisi pertamanya, dan berhasil menyandang gelar juara 2 serta juara favorit.



Menjalani tugas sebagai Ning Surabaya selama satu tahun, Vira juga mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi. Vira terjun ke dunia model secara otodidak, mengikuti Harvard Model United Nation, dan mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Seoul-Korea Selatan. Setelah merasa memiliki prestasi yang membanggakan, Vira kemudian memberanikan diri mengikuti ajang Puteri Indonesia 2014 dan berhasil membawa pulang gelar tersebut.

"Saya awalnya enggak terpikir akan menjadi seorang Puteri. Saya awalnya bercita-cita ingin jadi duta besar, makanya saya kuliah jurusan hukum internasional. Sebenarnya, saya ingin kuliah jurusan Hubungan Internasional (HI), tapi mama bilang jurusan Hukum saja, aku mengikuti apa kata mama, karena aku percaya ridha Allah adalah ridha orang tua," ujar gadis yang hobi bermain piano ini kepada Metrotvnews.com beberapa waktu lalu.

Segala usaha yang Vira lakukan, tentu bukanlah hal yang mudah. Ia berjuang banyak untuk menggapai impian-impiannya. "Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Saya hidup dalam berjuang, tidak ada yang saya dapatkan tanpa berjuang. Saya mulai dari bawah, dari benar-benar yang nggak tahu apa-apa, cewek yang tidak merasa bahwa dirinya cantik, saya dulu tembam, saya dulu  sama sekali cuek, ansos (anti sosial), aneh,  kurang apa coba. Sekarang bisa jadi Puteri Indonesia 2014, itu sama sekali nggak menyangka. Siapa yang tahu? itu adalah akibat dari perjuangan-perjuangan saya selama ini, dan tentunya doa dari orang tua saya, karena saya melakukan itu tulus untuk orang tua saya, untuk membanggakan mereka," papar gadis dengan tinggi badan 175cm dan berat badan 55kg ini.

Menjadi Puteri Indonesia tentu bukanlah hal yang mudah. Banyak tanggung jawab yang harus ia emban dan tentunya membutuhkan banyak pengorbanan. Vira yang masih tercatat sebagai mahasiswi semester 7 di Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini harus mengambil cuti selama satu tahun demi mengemban tugas menyebarkan ilmu yang ia miliki sebagai seorang Puteri.

Ia tentunya juga banyak memetik pelajaran dari para seniornya yang juga menyandang gelar Puteri Indonesia sebelumnya. Vira mengakui, salut terhadap perjuangan para seniornya itu.

"Senior-senior aku di Puteri Indonesia itu semuanya pejuang, mereka sama-sama memperjuangkan nama Indonesia, aku tahu tidak mudah menjadi seorang Puteri. Dengan mereka bertahan selama satu tahun menurut saya sudah hebat sekali. Mungkin orang-orang bisa dengan mudah menilai 'kamu kurang ini, kamu kurang itu', dan menganggap jadi Puteri itu hanya dapat enaknya saja, padahal jadi Puteri itu tidak mudah."

"Banyak tanggung jawab yang harus kami tanggung selama satu tahun. Harus jaga imej; harus selalu terlihat cantik dan sempurna di depan umum. Lalu orang lain akan tetap saja menilai kami macam-macam. Itu tentu bukan hal yang mudah, dan mereka (senior-senior Puteri Indonesia) bertahan dan mereka berjuang untuk Indonesia dan itu sangat membanggakan. Patut sekali dicontoh sebagai figur publik di Indonesia," lanjut anak pertama dari dua bersaudara ini.

Dalam mencontoh seniornya, Vira tentu menemukan berbagai hambatan dan kesulitan. Tapi, ia bisa mengatasinya dengan tenang.

"Tentu kalau kesulitan dan hambatan, setiap orang pasti punya. Setiap orang dilahirkan dengan karakter yang berbeda-beda. Tetapi, bagaimana kami menghadapi ketakutan itu yang membedakan. Kami harus menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih sempurna," tuturnya.

Selain mengambil pelajaran dari para seniornya, Vira juga mengambil banyak pelajaran dari teman-teman seperjuangannya. Vira kini bersahabat dengan dua runner-up Puteri Indonesia 2014, yaitu runner-up 1 - Elfin Pertiwi Rappa, dan runner-up 2 - Estelita Liana. Persahabatan Vira dengan keduanya dirasa sangat spesial, mengingat ketiganya berasal dari kota yang berbeda-beda.

"Elfin dari Palembang, runner-up 1 Puteri Indonesia 2014, saya belajar dari dia bagaimana mencintai pasangan dengan setia itu seperti apa, karena dia dengan kekasihnya itu berjauhan selama dua tahun. Aku tahu itu enggak mudah menjaga hubungan selama dua tahun padahal saling berjauhan, dan aku sangat respek dengan mereka, dan aku sangat mengagumi mereka."

"Lily, dari Jogja, dia memberi pelajaran bahwa dalam memandang orang jangan dari sisi negatif, tetapi dari sisi positif. Dia sama sekali enggak pernah berburuk sangka sama orang, dia tidak pernah berniat jahat terhadap orang, dan ketulusan hatinya dalam berteman ataupun mencintai apapun sangat terasa, dan saya berlajar sabar dari Lily. Kami bertiga sekarang tinggal bareng, satu apartemen, satu unit, tinggal bareng selama satu tahun dan benar-benar banyak kisah suka duka sedih ceria, benar-benar menyenangkan," lanjut Vira.



Vira juga mengungkapkan, dengan kedua sahabatnya itu, ia benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri. Ia bisa marah kepada sahabatnya, tapi lalu kembali tertawa bersama dalam waktu yang singkat. Sebagai seorang Puteri, Vira tidak malu berbagi cerita lucu antara Vira dan para Puteri kepada Metrotvnews.com.

"Pas ulang tahun aku Juni lalu, aku ada acara makan malam perayaan ulang tahun, aku kasih tahu mereka beberapa hari sebelumnya, pas aku sudah siap untuk makan malam, kok Elfin dan Lily belum siap-siap. Lalu aku pergi kongkow dengan teman aku. Aku terus hubungi mereka, kok dijawabnya nggak bisa datang, alasannya sakit perut, dan lain-lain. Aku sudah marah-marah, karena mereka enggak datang ke ultahku, tapi mereka cuma baca pesan aku."

"Ternyata pas aku pulang, mereka rombak apartemen, rombak kamarku benar-benar kayak dekorasi ulangtahun princess gitu, ada lilin-lilinnya, confetti itu segala macam, aku menangis saat itu, aku benar-benar menangis. Aku awalnya marah, tapi ternyata mereka kasih aku kejutan, aku enggak sangka, aku senang banget. Jadi, malam itu kita tidur bertiga, ada balon-balon di atasnya, kita cerita-cerita sampai pukul 1 atau pukul 2 pagi baru kami tidur," beber Vira. Vira tidak menyangka bisa bersahabat sangat erat dengan kedua pesaingnya di ajang Puteri Indonesia 2014 itu.

Memiliki rasa toleransi yang besar tentu menjadi dasar dari kecocokan di antara ketiga Puteri tersebut. "Aku rasa enggak semua orang bisa saling berbagi segalanya dengan orang lain. Tetapi, dengan mereka masih mau dan merasa cocok tinggal bareng dengan aku, berarti karena punya toleransi yang sangat tinggi, kami benar-benar kayak bersaudara banget," ujarnya lagi.

Sebagai seorang Puteri yang akan membawa nama baik Indonesia di mata dunia, Vira tentu memahami betul arti toleransi. Selain belajar bertoleransi dari kedua sahabatnya, Vira juga menjunjung tinggi toleransi antara suku dengan suku yang lain, juga suatu bangsa dengan bangsa lain.

"Kita lahir dalam berbagai ras, setiap ras juga mempunyai kebudayaannya sendiri dan kita harus saling toleransi antara satu suku dengan suku yang lain. Kita harus menyerap apa yang positif dan meninggalkan hal-hal yang negatif. Karena kalau perbedaan budaya, kita enggak bisa larang, jadi harus toleransi," ujarnya.

Sebagai perwakilan dari Indonesia untuk melaju ke ajang Miss Universe 2014 mendatang, Vira memiliki sedikit keresahan dalam dirinya. Ia menilai, bangsa Indonesia masih kurang mendukung adanya kontes kecantikan.

"Dari beberapa kontes yang saya sering saya temui, saya lihat bangsa kita tercerai berai, tidak bisa mendukung, tidak satu suara, seperti di negara-negara lain. Bukannya  mendukung, tetapi malah melecehkan. Harusnya, apapun pilihan para juri atas Putri Indonesia juara 1, 2 dan 3, ya tugas kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya mendukung, bagaimana caranya agar putri-putri kita bisa membanggakan Indonesia ketika maju ke ajang internasional, membantu kita juga sebagai Puteri yang diberi tanggung jawab, kan tidak mungkin Puteri hanya diam saja, pasti ada usaha-usaha dan kegiatan yang dilakukan," papar Vira. Ia juga mengungkapkan bahwa tidak semestinya, para Puteri dilecehkan oleh masyarakat.

"Para Puteri, dalam prosesnya menjadi Puteri, bukanlah tanpa usaha. Mereka melakukan usaha, berjuang dengan sangat keras, dan tidak instan. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, saya ingin kita bersatu, bahu membahu mendukung Indonesia di ajang internasional," harapnya.

Meski merasa kekurangan dukungan, Vira tetap merasa bangga dirinya menjadi Perempuan Indonesia. Setelah menjadi Puteri Indonesia 2014, Vira semakin bangga. Ia bisa mendapatkan berbagai pengalaman baru di setiap paginya. Ia juga menghimbau, bagi masyarakat Indonesia yang masih memuja orang asing, lebih baik menilai ulang bahwa perempuan Indonesia jauh lebih cantik dan membanggakan jika dibandingkan perempuan asing atau 'bule'.

"Aku sebenarnya tidak mengkotakkan adanya westernisasi. Westernisasi di satu sisi ada yang bagus, tapi tidak semua berarti harus bule, karena Indonesia tuh enggak jelek kok. Perempuan Indonesia itu cantik-cantik. Kita harus bangga, bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan cara mengangkat dan mengubah paradigma bahwa yang cantik tuh harus seperti ini, misalnya harus kurus, tinggi, langsing, kita harus punya paradigma sendiri bahwa yang cantik itu kulitnya sawo matang, ya seperti bagaimana cantiknya asli Indonesia."

"Orang bule sendiri aja menganggap orang kita cantik-cantik, kenapa kita enggak berpikir begitu? Kita punya ras kita sendiri, mereka (orang asing) punya rasnya sendiri, kita memang berbeda, punya standar cantiknya masing-masing dengan level yang berbeda-beda, kita harus syukuri itu," lanjutnya.

Akhir tahun ini, Vira akan berangkat menuju ajang yang lebih tinggi lagi, yaitu Miss Universe 2014. Ia akan bersaing dengan puluhan gadis-gadis cantik yang terpilih mewakili negaranya di seluruh penjuru dunia. Ia telah sangat matang mempersiapkan segalanya, bahkan sudah hampir mencapai 100 persen. Meski merasa memiliki sedikit ketakutan, Vira menganggapnya sebagai tantangan, bukan beban.

"Rasa takut menghadapi ajang Miss Universe 2014 pasti ada, apalagi sebelumnya, senior aku, Whulandary berhasil raih Top 16 Miss Universe 2013 dan runner-up national costume, dan itu jadi tantangan buat aku, bukan beban.  Jangan sampai Indonesia itu menurun, harus meningkat," ujarnya.

Vira pun memiliki target bahwa ia ingin mendulang prestasi lebih baik dari senior-seniornya. "Paling tidak, setara, atau meningkat (prestasinya) dari Whulandary. Aku enggak berpikir harus menang atau bagimana. Ada 90 perempuan cantik lainnya di sana, kami hanya wajib berusaha dan berdoa, melakukan yang terbaik, dan percaya bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha," tutupnya

 

Database Error

Please try again. If you come back to this error screen, report the error to an administrator.